Banda Aceh - Kabut pagi masih menggantung rendah di Kecamatan Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah, ketika suara sepatu kecil beradu dengan lantai semen sekolah dasar. Satu per satu siswak datang dengan wajah mengantuk, tas yang menggantung miring di punggung, dan perut yang belum tentu terisi penuh sejak pagi.
Namun pagi itu terasa berbeda. Di depan gerbang sekolah, sebuah mobil boks berwarna putih berhenti pelan. Anak-anak yang semula berjalan lesu mendadak mempercepat langkah. “Itu mobil MBG!” teriak seorang siswa.
Raka (10), siswa kelas empat di salah satu SD Negeri di Gumelar, refleks berdiri dari bangkunya. Ia mengintip dari balik jendela kayu yang catnya mulai terkelupas. Senyumnya mengembang. “Hari ini dapat makan lagi,” gumamnya, seolah meyakinkan diri sendiri.
Bagi Raka, Program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program pemerintah. Ia adalah penanda hari-hari yang terasa lebih ringan. Hari ketika perutnya kenyang sebelum pelajaran Matematika dimulai. Hari ketika kepalanya tidak lagi berat, dan matanya tidak terus menatap jam dinding menunggu bel pulang. “Kalau sudah makan, rasanya sekolahnya cepat,” katanya sambil tertawa kecil.
Kotak makan dibagikan satu per satu. Nasi putih mengepul, bakso asam manis berkilau oleh sausnya, tahu goreng, tumis sawi putih dan wortel, serta sepotong jeruk yang harum. Raka mengendus aromanya sebelum mulai makan. “Jeruknya saya simpan terakhir,” katanya. “Biar enggak cepat habis senangnya.”
Di rumah, Raka tinggal bersama orang tua dan dua adiknya. Ayahnya bekerja serabutan, ibunya mengurus rumah. Buah bukan menu harian. Kadang ada, kadang tidak. Maka jeruk di kotak makan itu terasa istimewa.
Di bangku sebelah, Dimas (9) mengangguk setuju. “Aku suka kalau ada ayam,” katanya. “Soalnya di rumah jarang.”
Percakapan kecil seperti itu terdengar di banyak sudut kelas. Tidak ada keluhan. Tidak ada piring tersisa. Yang ada hanya bunyi sendok, tawa tertahan, dan wajah-wajah anak yang perlahan berubah cerah.
Dari Angka Besar ke Cerita Kecil
Setahun lalu, pada 6 Januari 2025, Program Makan Bergizi Gratis diluncurkan dengan skala yang jauh lebih kecil. Hanya 190 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di 26 provinsi, melayani sekitar 570 ribu penerima manfaat. Tak banyak yang menyangka, dalam waktu satu tahun, program ini akan menjelma menjadi salah satu intervensi sosial terbesar di Indonesia.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana mencatat, hingga awal Januari 2026, sebanyak 19.188 SPPG telah beroperasi di 38 provinsi dan menjangkau 514 kabupaten/kota. Sekitar 55,1 juta masyarakat telah merasakan manfaatnya. “Sepanjang tahun 2025, kami menyajikan lebih dari 3 miliar porsi makanan bergizi,” ujar Dadan. Dari miliaran porsi itu, kejadian yang berdampak pada penerima manfaat tercatat sekitar 15 ribu orang.
Secara matematis, capaian itu diterjemahkan sebagai keberhasilan 99,99 persen. Namun di lapangan, keberhasilan itu hadir dalam bentuk yang lebih sederhana: anak-anak yang tidak lagi belajar dalam keadaan lapar.
Perubahan yang Terasa di Dalam Kelas
Di SMP Gumelar, Siti (13) masih mengingat jelas bagaimana rasanya duduk di kelas dengan perut kosong. “Kalau jam terakhir, kepala suka pusing,” katanya. “Kadang pengen nangis tapi enggak tahu kenapa.”
Kini, ia merasakan perbedaan. “Kalau sudah makan MBG, rasanya lebih tenang. Pelajaran masuk.”
Bagi Siti, makan siang gratis di sekolah juga membawa rasa aman. “Ibu jadi nggak khawatir saya belum makan,” ujarnya. “Katanya, yang penting saya bisa belajar.”
Andi (16), siswa SMA, mengaku kehadiran MBG membuat suasana kelas berubah. “Anak-anak jadi nggak gampang marah,” katanya sambil tertawa. “Kalau lapar kan bawaannya emosi.”
Ia sendiri kini lebih fokus menghadapi ujian. “Kalau gizinya cukup, otaknya kayak lebih siap,” ujarnya polos.
Di Gumelar, pembagian MBG tak lepas dari pendampingan WS. Danramil 14/Gumelar, Lettu Inf Amat Barokah. Ia sering berdiri di depan kelas, menjelaskan mengapa sayur harus dihabiskan dan buah tak boleh disisakan. “Kami ingin anak-anak paham, bukan sekadar patuh,” kata Amat. “Makan itu investasi.”
Dina (11), siswi kelas lima, kini hafal manfaat wortel. “Buat mata,” katanya cepat. “Pak TNI yang bilang.”
Perubahan kecil itu terlihat nyata. Anak-anak yang sebelumnya memilih-milih makanan, kini mulai menghabiskan sayur. Guru-guru pun merasakan dampaknya. Kelas lebih hidup, anak-anak lebih aktif bertanya.
Program Besar, Kerja Bersama
Salah satu hal yang membuat MBG berbeda adalah keterlibatan masyarakat. Hingga akhir 2025, seluruh SPPG yang berdiri merupakan hasil kontribusi swasta dan masyarakat, tanpa menggunakan dana negara. Dapur-dapur gizi tumbuh di berbagai daerah, menyerap tenaga kerja lokal, menggairahkan rantai pasok pangan.
“Ini kemitraan yang sangat bergairah,” kata Dadan. “Dampaknya sampai ke petani.”
Setiap kali Presiden Prabowo turun ke daerah, cerita tentang MBG selalu muncul. Anak-anak dan para ibu bertanya kapan mereka bisa ikut. Tekanan dari bawah inilah yang membuat percepatan dilakukan.
Tenaga Ahli Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Irhamna, menyebut MBG sebagai wajah Presiden Prabowo Subianto. “Ini janji yang harus ditunaikan,” ujarnya. Meski capaian tinggi, pemerintah tidak menutup mata terhadap tantangan. Skala besar dan waktu singkat menjadi ujian tersendiri.
Target 2026 dipasang lebih tinggi: zero defect. Tak boleh ada kesalahan. Fokus utama diarahkan pada penurunan stunting. Melalui MBG, pemerintah menargetkan stunting bisa ditekan secara signifikan, bahkan dihilangkan pada akhir 2026.
Anak-anak stunting akan mendapat treatment khusus, bukan hanya makanan bergizi. Setiap SPPG dilengkapi ahli gizi untuk menyesuaikan menu, termasuk bagi anak dengan alergi atau kebutuhan khusus.
Ketika Kotak Makan Kosong, Harapan Terisi
Bel istirahat usai. Kotak-kotak makan dikumpulkan. Raka mengelap mulutnya, lalu menutup kotak dengan hati-hati. “Besok menunya apa ya?” tanyanya pada guru.
Tak ada yang tahu pasti. Namun bagi Raka dan jutaan anak lainnya, satu hal sudah jelas: esok hari mereka akan datang ke sekolah dengan keyakinan bahwa negara hadir, bukan dalam pidato, bukan dalam angka, tetapi dalam sepiring makan yang menguatkan tubuh dan menumbuhkan harapan.
Dan dari kotak-kotak makan yang penuh nutrisi dan kecukupan akan gizi, hingga akhirnya kososng, masa depan Indonesia perlahan diisi dan terus dikukuhkan.



Komentar