DAVOS — Di tengah suhu beku Davos, Swiss, Indonesia memanaskan panggung ekonomi dunia. Dalam ajang bergengsi World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026, delegasi Merah Putih tidak datang untuk sekadar menjadi penonton, melainkan menegaskan posisi tawar yang kuat terkait isu global paling seksi saat ini: Transisi Energi.
Indonesia menolak didikte. Di hadapan ribuan pemimpin dunia, Indonesia menegaskan bahwa peralihan ke energi hijau harus adil (just), realistis, dan tidak boleh mengorbankan pertumbuhan ekonomi rakyat.
Pesan tegas ini digaungkan dalam diskusi panel “Powering the Future: Indonesia’s Strategy for a Just and Ambitious Energy Transition” di Indonesia Pavilion, Selasa (21/1/2026).
Jurus "Dua Kaki" Pertamina: Migas Jalan, Hijau Dikebut
Sorotan utama tertuju pada paparan Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri. Ia memperkenalkan strategi cerdas yang disebut "Dual Growth Strategy" atau strategi pertumbuhan ganda.
Apa itu? Sederhananya, Pertamina berdiri di dua kaki. Kaki pertama, tetap memaksimalkan produksi sektor hulu minyak dan gas (migas) untuk menjaga ketahanan energi nasional agar lampu di rumah rakyat tidak byar-pet. Kaki kedua, secara agresif mengembangkan bisnis rendah karbon.
“Kami memaksimalkan bisnis eksisting dengan meningkatkan produksi sektor hulu yang potensinya masih besar, sekaligus mengembangkan bisnis rendah karbon. Salah satunya melalui pembangunan ekosistem biofuel, di mana Indonesia telah berhasil mengimplementasikan program biodiesel B40,” ujar Simon bangga.
Dunia patut mencatat, ketika banyak negara maju masih berkutat dengan teori, Indonesia sudah sukses menjalankan B40 (campuran 40% bahan bakar nabati sawit pada solar). Selain itu, teknologi penangkapan karbon (Carbon Capture Storage/CCS) dan panas bumi juga terus digeber.
Swasta Tak Mau Kalah: Dari Hidro hingga LNG
Tak hanya BUMN, raksasa swasta nasional juga unjuk gigi. Presiden Direktur RGE Indonesia, Bernard Riedo, memamerkan inovasi tingkat tinggi. RGE tengah mengembangkan proyek LNG di Kanada yang diklaim sebagai energi net-zero karena proses produksinya ditenagai oleh listrik tenaga air (hidro).
Sementara itu, Presiden Direktur Indika Energy, Azis Armand, menyuarakan realitas bisnis. Ia mengingatkan bahwa transisi energi butuh napas panjang dan kepastian regulasi.
"Transisi energi harus memperkuat platform bisnis agar dapat tumbuh secara berkelanjutan dan tetap layak secara finansial," tegas Azis. Artinya, investasi hijau harus tetap cuan agar bisa berumur panjang.
Misi 2060: Ambisius Tapi Membumi
Forum di Pavilion Indonesia ini menjadi etalase penting bagi visi besar negara mencapai Net Zero Emission pada 2060. Target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen terus dikejar, namun dengan cara Indonesia sendiri: kontekstual dan membumi.
Para panelis sepakat, transisi energi tidak boleh mematikan industrialisasi yang sedang gencar dilakukan untuk menciptakan lapangan kerja bagi jutaan anak muda Indonesia.
Sebagai informasi, WEF 2026 dihadiri lebih dari 2.500 pemimpin dunia. Kehadiran Pavilion Indonesia dengan tema "Indonesia Endless Horizons" yang didukung oleh Kementerian Investasi/BKPM, Danantara, dan KADIN, menjadi bukti bahwa Indonesia siap menjadi pemain kunci, bukan sekadar pasar, dalam peta energi masa depan.



Komentar